Banyak orang bilang jadi Ibu itu harus banyak sabarnya. Terutama ketika ada si Kecil yang lagi aktif-aktifnya di rumah. Wajar kok, Moms kalau si Kecil tiba-tiba tantrum atau merengek minta sesuatu detik itu juga. Hal tersebut dinamakan Immediate Gratification, yaitu dorongan psikologis untuk mendapatkan sesuatu secara cepat tanpa penundaan. Nah, inilah yang membuat anak sulit menahan diri. 

Di usianya, anak memang belum punya kemampuan untuk menunggu, mengelola rasa kecewa, ataupun meredam amarahnya sendiri. Maka dari itu belajar sabar itu proses dan butuh dilatih sedikit demi sedikit secara bertahap. Dan sebagai orang tua, Moms punya peran besar untuk membantu si Kecil memproses serta mengelola emosinya secara konsisten setiap hari. Tujuannya, agar di kemudian hari si Kecil tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengendalikan emosinya dalam berbagai situasi.

 

Mulai dari Hal Kecil

Belajar sabar itu nggak harus menunggu si Kecil menghadapi situasi besar. Justru dimulai dari momen sederhana yang ia temui sehari-hari. Misalnya seperti menunggu giliran bermain, menunggu makanan siap di meja, atau menyelesaikan permainan sampai tuntas. 

Di momen-momen inilah Moms bisa membantu anak mengenali emosi yang sedang ia rasakan. Ketika si Kecil rewel karena merasa terlalu lama menunggu, Moms bisa bilang, “Kakak lagi kesel ya karena nunggunya lama?” Dengan memberi nama pada emosinya, anak jadi belajar memahami apa yang ia rasakan. Dan ketika emosi dikenali, biasanya akan lebih mudah dikelola.

Kalau si Kecil mulai gelisah, ajak ia tarik napas pelan-pelan sambil berhitung. Teknik pernapasan sederhana ini membantu tubuhnya lebih rileks dan pikirannya lebih tenang, sehingga ia bisa diajak komunikasi kembali.

Orang Tua Adalah Role Model Anak

Ingat ya, Moms. Anak adalah peniru ulung. Sikap kurang sabar si Kecil bisa saja terbentuk dari apa yang ia lihat setiap hari.

Saat Moms tetap tenang ketika antre panjang atau tidak langsung marah ketika pekerjaan rumah berantakan lagi, anak akan belajar bahwa setiap masalah bisa dihadapi dengan kepala dingin. Ia menyerap cara Moms merespons situasi.

Tapi hal ini bukan berarti Moms jadi harus merasa ter-pressure untuk menjadi role model si Kecil. Justru penting bagi Moms untuk menunjukkan bahwa orang dewasa pun punya emosi. Misalnya dengan berkata, “Mama tadi hampir kesel, tapi Mama coba tarik napas dulu biar lebih tenang.” Dari sini, anak belajar bahwa merasa marah itu normal, tapi yang penting adalah cara meresponsnya.

Konsisten dan Apresiasi

Ketika si Kecil berhasil menunggu tanpa tantrum atau mencoba lagi setelah gagal, berikan apresiasi sederhana. Pelukan, pujian tulus, atau momen spesial minum susu favoritnya seperti Ultra Mimi Kids bisa jadi bentuk penghargaan kecil yang bermakna.

Anak yang diapresiasi akan lebih termotivasi untuk mengulang perilaku baiknya. Karena sabar bukan hasil sekali jadi, melainkan tumbuh dari latihan yang rutin dan konsisten.

Selain pendampingan emosional, dukungan fisik juga nggak kalah penting, Moms. Faktanya, anak yang cukup istirahat dan kebutuhan nutrisinya terpenuhi cenderung lebih siap menghadapi tantangan dan mengelola emosinya sehari-hari. Ultra Mimi Kids yang terbuat dari susu sapi segar bisa jadi bagian dari rutinitas harian si Kecil untuk mendukung tumbuh kembangnya, sekaligus menjadi momen bonding hangat bersama Moms.

 

Penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang mampu mengelola emosi dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara akademis, sosial, dan emosional. Jadi yuk, Moms, dampingi si Kecil bertumbuh jadi pribadi yang sabar dan tangguh sedari dini!